Rabu, 12 Maret 2014

Ketika Menginjak Dunia Masa Lalu ...

Hai, di sini Ranku Kurogane. Err, judul entrinya udah kayak apaan aja, ya? Tapi, percayalah. Ini 100% akurat. Saya berani sumpah. Demi Allah. Okelah, nothing much to say anymore, langsung ke inti cerita aja, ya? Kenapa seorang Ranku Kurogane yang manis nan cerdas err, biasanya cerewet ini tiba-tiba ingin mempercepat argumentasi, ini bukan teks eksposisi. Maksud saya, sesi event dalam sebuah Recount? Saking saya takutnya. Saya tekankan, dengan bold and underline. TAKUT. Iya, yang harusnya saya takuti itu hanya Allah. Mungkin, takut akan kekuasaan Allah? Hehehe, yang itu boleh, 'kan?

To the point.

Sepulangnya dari Mall Taman Anggrek. Jujur aja, nggak ada yang aneh. Yang aneh itu waktu saya sampai di rumah. Demi Allah. Badan saya serasa panas—panas banget. Kayak demam. Tapi, saya nggak pusing. Dan, tangan dan kaki saya dingin-dingin aja. Apa karena kedinginan? Saya nggak menggigil. Entah mengapa, tubuh saya mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan suhu tubuh dengan lingkungan. BUKAN SAYA ITU REPTILIA ATAU AMPHIBIA, LHO. Menyesuaikan. Bukan mengikuti. Kalau di sana terlalu dingin, tubuh saya pasti panas. Gitu. Oke, kembali ke situasi saat itu. Karena saya sudah biasa mengalaminya, dan yakin ini bukan demam, saya langsung take it easy. Bukannya apa-apa, saya malas kalau apa-apa sudah didiagnosa sakit.

Apa ada manusia yang sama seperti saya? Setidaknya, ini bukan kelainan.

Kembali ke topik, pik.

Kira-kira 3 jam lebih keadaan saya begitu. Lama-lama saya ngerasa kalau saya sakit, 'kan. Sudahlah, saya tiduran sambil selimutan. Dan, berani taruhan. Rasanya makin panas. Saya bukannya mendramatisir ataupun sejenisnya, tapi saya waktu itu udah kayak setengah sadar. Saking kepanasan, mata saya sampai setengah terkatup, seakan-akan sinar matahari menerpa saya, padahal boro-boro masih siang. Saya lepas selimutnya, masih kepanasan juga. Tangan saya sempat hangat setelah saya gosok-gosokin, tapi lambat laun dingin lagi. Kaki saya sih, dinginnya udah kayak di Kutub Utara, nggak, sedingin es.

Sesi terburuknya bermula dari sini.

Tiba-tiba, saya ngerasa ada yang mau masuk ke dalam tubuh saya. Langsung aja, saya refleks pegang kepala. Mau teriak, tapi suara nggak bisa keluar—nggak tahu kenapa. Akhirnya, saya cuma merengah-rengah, niatnya sih, mau minta tolong ke seseorang yang bermurah hati untuk memberikannya tapi suara aja pelit sama saya. Dan, akhirnya ada saat dimana saya benar-benar kehilangan kesadaran.

Anehnya, itu saya kayak yang masih bangun. Inikah yang dinamakan sleep paralysis? Yang mana tubuh sampai nggak bisa digerakin. Itu yang saya alamin. Saya sama sekali nggak bisa berpindah dari posisi terakhir—memegang kepala. Dan, di dalam benak saya, ada berbagai peristiwa yang pertama, saya nggak pernah mengalaminya. Kedua, saya nggak pernah memikirkannya. Ketiga, saya bahkan nggak tahu itu berlatar dimana.

Pertama-tama, ada tangan. Pas saya sadar—itu tangan dilayangkan ke wajah seseorang. Saya nggak bisa lihat wajah duo protagonis dalam peristiwa itu. Tapi, dari postur tubuh mereka masing-masing, itu cowok sama cewek. Yang cewek sih, benar-benar jelas. Soalnya (maaf), cewek itu lagi nggak pakai apa-apa. Cowoknya nggak jelas pakai baju apaan. Entahlah itu baju kerja, atau kerajaan, atau tentara, saya nggak ngerti. Cowoknya kayak yang marah-marah sama cewek itu, dan cewek itu cuma bisa nangis. Sempat terlintas di benak saya kalau cewek itu (maaf) pelacur. Dan sekilas, semua itu menghilang.

Kedua, ada wajah anak kecil. Entah cewek, entah cowok. Matanya nggak kelihatan. Tapi, mulutnya setengah terbuka. Ekspresinya seperti orang kaget. Di pipi dan sekitar dagunya, bahkan telinganya, itu banyak banget cipratan darah. Tidak tahu menahu itu darah dari dia sendiri, atau darah dari orang lain. Sekilas, semuanya hilang lagi.

Ketiga, berlatar di suatu taman di belakang rumah. Rumah orang kaya kayaknya. Ada anak kecil cewek—yang ini jelas-jelas berwarna. Rambutnya kriwel-kriwel—a la anak Eropa. Pakai dress goth lolita pink. Eh, dia 'kan kayak megang boneka. Entahlah boneka apa. Tapi, bonekanya punya rambut. Anak itu pegang gunting silver, lalu rambutnya boneka itu digunting-gunting. Nggak sampai situ. Wajahnya boneka itu juga ditusuk-tusuk, dan saya bisa lihat dengan jelas—anak itu menyeringai. Lebar. Giginya yang seputih susu itu terlihat dengan jelas. Laksana raja di laut, salah. Laksana ekspresi Joker di kartu truf.

Dan, dia menoleh ke arah saya. Matanya seperti biasanya kalau setan, nggak terlihat. Tapi, gestur tubuhnya benar-benar jelas kalau sayalah yang akan menjadi target keduanya. Setelah bonekanya yang malang itu jatuh secara tidak terhormat di atas lantai. Anehnya, bukannya lari dari situ, saya cuma bisa bengong. Dan, tiba-tiba saja, semuanya jadi gelap lagi.

Sampai akhirnya saya benar-benar sadar kalau saya lagi tiduran di kamar.

Alhamdulillah, tangan dan kaki saya bisa bergerak juga. Saya langsung cepat-cepat ke kamar mandi. Bukan cuma karena kebelet pipis, tapi benar-benar. Saya harus lari dari TKP.

Sampai di sana, saya langsung istighfar. Saya ribut-ribut di kamar mandi. "Apaan sih, itu?! Gue ngebayangin apaan, coba?! Astagfirullah, astagfirullah, astagfirullah... Ya Allah, itu halusinasi apa? Dimana itu? Kenapa?". Masih banyak lagi, tapi saya keburu lupa saya ngomong apa aja. Sampai, tiba-tiba, ada suara gabrukan di atas alat pemanas air. Saya cek 'kan otomatis. Nggak ada apa-apa. Mungkin aja tikus, 'kan. Tapi, beneran. Nothing's there. Saya yakin, itu bukan suara kucing lari-lari di atas atap. ITU GABRUKAN.

Untuk kedua kalinya, saya lari dari TKP. Tentunya, sambil istighfar sekaligus menghujat diri sendiri. Sumpah. Pintar banget. Harusnya, saya nggak boleh ngomongin 'mereka'.

... Saya boleh ngomong sesuatu? Saya itu indigo.
Sejak kecil, saya sudah sering berkomunikasi dengan makhluk astral. Sayangnya, saya tidak melatih kemampuan itu, jadilah jarang keluar. Tapi, saya sering merasakannya. Bahkan, di rumah saya sendiri. Saya juga bisa menerawang banyak hal. Entah masa depan, bahkan masa lalu. Seperti berbagai halusinasi yang saya ceritakan di atas. Tapi, saya bukan anak indigo yang benar-benar terampil, lho ...

Oke, saya rasa cukup sekian. Thanks for reading.


(( Ranku Kurogane. ))

Senin, 10 Maret 2014

Desainer Grafis: Pekerjaan Primer atau Sekunder?

Hai, di sini Ranku Kurogane. Benar-benar asli kurang kerjaan di saat liburan, jadi kumanfaatkan saja untuk nongkrong eh, maksudku menulis di blog. Rencananya, aku mau update Tell Me dengan target C. Y. S Arc harus sudah selesai. Dan itu tinggal empat ditambah satu file lagi, hahahaha. Apa itu C. Y. S Arc? Pikir saja sendiri! Kidding, itu singkatan dari Chris - Yashiro - Shermie. Alias, sesi perkenalan mereka sudah harus selesai sebelum aku reunian sama sekolah lagi dan hijrah err, maksudku, berlanjut ke King of Fighters '97 Tournament Arc. Dan, di sana akan kita mulai permainan berdarahnya. Bercanda, tapi serius. Soalnya, Chris memang aslinya psikopat tingkat tinggi, sih.

Okelah, ganti topik, pik!
Sekarang kita fokus saja ke lain acara eh, maksudnya tema sesungguhnya dari entri ini.
Kalian tahu apa itu editor, 'kan? Editor itu sesuai dengan namanya, pekerjaannya mengedit sesuatu. Tapi, yang kumaksud itu desain grafis kalau di jurusan kuliah. Kawannya Photoshop. Musuhnya berdagang, ups. Itu aku aja, ya. Okay, no offense. Everyone have one subject that they hated very much.
Oke. Aku memang suka merancang sesuatu. Mulai dari desain cover, halaman, tokoh cerita beserta pakaiannya dalam kehidupan sehari-hari, bahkan desain Music Video andaikata ceritaku akan difilmkan. Okelah, aku memang kurang kerjaan.
Sebenarnya sih, kalau mau dibilang aku mau jadi desainer, itu salah. Aku lebih mau jadi presiden atau novelis. Niat jadi presiden itu nggak terlalu serius karena aku malas jadi diplomat, walaupun INFJ sepertiku pasti berjiwa diplomat.
Aku sendiri juga bingung mau jadi apa. Soalnya, minatku banyak—hanya tiga, sih. Sastra. Komputer. Politik. That's all. Aku harus pilih yang mana? Tiga-tiganya aku suka, lho. Beneran. Aku suka membuat cerita. Aku suka merancang sesuatu. Aku suka mengedit foto. Aku suka pelajaran PKn. Aku suka pelajaran Bahasa—apapun yang ada di sekolahku, kecuali Arab. Aku suka pelajaran TIK. Jujur saja, aku bingung kalau disuruh memilih. Aku memang seorang yang decisive alias cepat memutuskan. Tapi, kalau urusan ini, aku masih bimbang.

Daripada bingung maksudku "mengedit foto" itu apa, let's see bunches of my editions.


Ashita no Hareru Kana—inspired on Chris. 
Atonement—inspired on Teito and Mikage. 
Autumn Feeling—inspired on Aozora Aera, my friend. 
 Black Symphony—inspired on Sherina Munaf's song.
 Butterfly Emerges from Chrysalis—inspired on Orochi Chris.
Fanatic Waltz—inspired on Orochi Shermie. 
 Galaxy Heart—inspired on Ginga Hagane.
 Glorious Mind—dedicated to my friend, Gloria Jen.
h@trick.—inspired on h@trick by Iori Nomizu. 
Happy Birthday—dedicated to my friend, Aozora Aera. 
Keep Fighting!—inspired on Neptune. 
La Campanella—inspired on Franz Liszt's La Campanella. 
Mad Fantasy—inspired on Chris. 
Music is My Soul—inspired on myself. 
Pastoral—inspired on Piano Sonata No. 15: Pastoral by L. V. Beethoven. 
Reminiscence—inspired on Teito Klein. 
 The Judges—inspired on OMEN SERIES by Lexie Xu.
Wondering About Something Lost—inspired on Who Are You? 
Re;story—inspired on Re;story by Eri Kitamura.

Oke, kiranya begitu aja. Dua puluh editan cukup, 'kan? Editan saya biasa-biasa aja, 'kan? Saya edit semua itu pakai Photoshop CS6. Bolehnya papa yang berhasil ngecrack sampai full version. Saya memang biasa ngedit karakter anime. Saya belum berani ngedit manusia.
Saya emang nggak pakai "Ranku Kurogane" sebagai codename di situ, seringnya "Shiro Sylthfarn" atau "Flames of Destiny". Shiro Sylthfarn itu dibuat karena saya suka Sylthfarn dari Magical x Miracle dan saya pernah pakai codename Chris karena saya lagi suka-sukanya sama dia waktu itu. Wkwkwk.
Nothing much to say anymore, kira-kira hobi seperti ini bisa dijadikan profesi nggak, ya? Apa ini akan menjadi pekerjaan primer atau sekunder? Aku tidak tahu menahu.
Wish me luck. Dan, kalau misalnya ada masukan, tidak usah ragu untuk menuliskan saran Anda di kolom komentar. Mungkin berguna untuk masa depan saya.

(( Ranku Kurogane. ))

Minggu, 09 Maret 2014

Tell Me (File 3.0: Bloody).

Hai, di sini Ranku Kurogane. Akhirnya, aku bisa juga melanjutkan Tell Me. Senangnya! Dari kemarin, aku berusaha sampai hasilnya benar-benar membuatku puas. Sebenarnya, ini sedikit melenceng dari kerangka aslinya. Tapi, nggak jauh-jauh amat, kok. By the way, dikarenakan terlalu panjang, File 3: Bloody ini dipisah menjadi 2 file, 3.0: Bloody dan 3.5: After Bloody. Nothing much to say anymore, check it out. Maaf, ya, kalau misalnya ini terlalu emosional.
.
.
.
.
.
File 3.0: Bloody.
.
.
.
.
.
                Darah. Ya, benda cair berwarna kecoklatan itu menjadi benda pertama yang ditangkap oleh kedua mataku. Teksturnya yang kental itu membuatnya dengan mudah menempel di seluruh bagian tanganku, baik jari, telapak, maupun lengan. Tak luput oleh pandanganku sebilah chopper silver yang sempurna untuk memotong daging. Tapi, bisa dipastikan kalau aku telah mengubah pekerjaan tetap benda berbahaya tersebut.
                Refleksi makhluk tidak bernyawa yang sudah tidak beraturan bentuknya itu jatuh ke dalam retinaku. Anehnya, aku tidak merasakan kegundahan sama sekali – apa ini yang dinamakan dampak dendam? Bahkan, aku masih dapat mengenali kedua mayat rumpang itu.
Jelas aku kenal. Mereka adalah dua orang yang berperan besar dalam kemunculan diriku di muka bumi. Hebatnya, aku justru membantu mereka untuk meninggalkan dunia fana ini dengan sukarela.
                Eit, bukannya dengan sukarela, sih. Lebih tepatnya, aku telah memberikan sekilas cuplikan penyiksaan yang sekarang mereka terima di neraka. Sayang sekali, aku harus melewatkan momen-momen terpenting itu. Lagipula, aku enggan melihatnya – itu berarti aku harus masuk neraka dulu, ‘kan? – siapa juga yang mau menjadi sehina kedua orang tuaku? Itu termasuk aku.
Aku sadar kalau membunuh mereka sama artinya aku menjadi lebih hina daripada mereka, sehina noda darah yang dengan setia mewarnai nyaris sekujur badanku. Aku bukan orang munafik seperti mereka. Tidak terlintas di pikiranku sama sekali untuk memikirkan apa yang akan kulakukan untuk menyembunyikan dosaku.
Singkat saja, aku tidak mau peduli lagi.
.
.
.
                Make it short, aku hanya bisa menyembunyikan kekagetanku di dalam hati.
                Pertama, aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa berada di tempat yang serba hitam seperti ini. Apakah ini yang dinamakan tidak dimana-mana? Kedua, tangan kananku sedang mencekik leher seseorang yang bahkan aku tidak tahu siapa dia dengan sangat kuat.
Ciri-ciri manusia misterius ini persis Kak Yashiro – karena dada mereka sama-sama berotot, walaupun di dada orang ini tertera tattoo aneh yang aku tidak paham artinya – tapi, bisa dipastikan kalau dia ini bukan Kak Yashiro. Pasalnya, walau rambut mereka sama-sama putih pucat, tapi bola mata orang ini persis dengan kepunyaanku. Biru laut.
                “Akan kubunuh kau dengan senang hati.”.
                Oke. Sekarang, aku kaget terhadap dua hal.
                Pertama, jelas-jelas yang barusan itu adalah suaraku. Suara yang mereka bilang adalah suara bocah yang jika sudah matang dapat digunakan sebagai bahan komersil. Faktanya, nihil sama sekali niat dalam otakku untuk mengatakan hal semacam itu – dengan nada yang benar-benar santai, pula. Kedua, apa yang kulihat ketika mataku bertatapan dengan mata orang ini.
                Irisku berubah warna menjadi merah darah. Tapi, bukan darah bersih yang masih kaya akan oksigen itu. Melainkan darah kotor yang bergabung dengan karbondioksida sehingga bercampur rata dengan warna hitam. Sangat mewakilkan segelap apa sorot mataku saat ini.
.
.
.
.
.
                Argh, kenapa suaranya mesti sama persis, sih? Oke, ini ‘kan jamku.
                Tanpa mengubah posisi selimut – yang menutupi seluruh badanku – kukeluarkan tangan kiri untuk meraih sumber bunyi yang sukses mengantarku kembali ke dunia fana. Langsung saja kutekan tombol yang berfungsi untuk menghentikan suara bising tersebut secara permanen – untuk saat ini saja. Besok pagi, benda itu pasti akan menunaikan tugasnya lagi. Seraya kepalaku muncul dari balik selimut dengan rambut acak-acakan, sorot mata kosong, dan kedua tanganku sedang mengenggam alarm kesayanganku, begitulah yang kulihat lewat cermin.
                Jam delapan pagi. Tadi itu mimpi, ya?
                Benar-benar, deh. Itu adalah mimpi terburuk. Aku berterima kasih kepada alarm yang sudah kupakai sejak kecil ini. Walau suara yang dia hasilkan selalu siap mengganggu tidur nyenyakku, untuk kali ini saja, aku merasa lega karenanya. Aku tidak terlalu keberatan pada adegan pertama – yang mana aku telah durhaka kepada orang tuaku sendiri – malah adegan terakhir yang ditebarkan bunga tidur itu membuatku nyaris terserang jantung koroner.
                Siapa dia? Kenapa warna matanya sama denganku? Kenapa warna mataku berubah?
                Argh, membuatku kegerahan saja. Kurasa ini saat yang tepat untuk menyiram seluruh ragaku dengan air panas untuk menyegarkan pikiran. Bayang-bayang mimpi itu masih terpampang jelas di dalam benakku, dan itu membuatku mual. Pasalnya, walaupun aku tega-tega saja membunuh orang tuaku, aku tidak mau berperan sebagai psikopat yang dengan girangnya memutilasi mereka.
                Lewatkan itu. Suasana pagi ini juga benar-benar sunyi, sangat berlawanan dengan kemarin. Ini membuatku semakin stres – karena tidak ada yang mengajakku bicara. Tambah lagi, cacing-cacing di dalam perutku meraung-raung minta makan.
Sialan, perasaanku semakin tidak karuan.
Kemana mereka? Apa mereka sarapan tanpa aku? Ah, biarlah.
Aku langsung beranjak ke kamar mandi tanpa memikirkan mereka lagi. Prioritas utamaku, menghilangkan semua scene yang ada di dalam pikiranku sebelum aku menyantap sesuatu.
.
.
.
                Benar-benar, deh. Mereka ingin bermain petak umpet denganku atau bagaimana, sih?
                Aku langsung menyibakkan jaketku ke arah belakang – melingkarkan lengan jaketku ke leher – dengan kasar. Adakah unsur kesengajaan dalam kejadian ini? Hanya Tuhan yang tahu. Aku benar-benar jengkel. Orang-orang yang kucari sama sekali tidak tampak batang hidungnya, dan itu sungguh menyebalkan.
Lebih baik aku makan sendirian, batinku kesal sambil menikmati suapan pertama.
Iris biruku memandang lurus ke arah kolam renang yang berada tepat di sebelah utara ruang makan. Karena jam masih menunjukkan pukul pagi, nyaris tidak tampak tanda-tanda kehidupan di sana. Siapa juga yang mau menyeburkan diri ke dalam air sambil bergulat dengan udara pagi? Pilihan terwajar adalah salah satu dari kedua itu, kecuali yang sudah mahir dalam urusan berenang.
“Chris, kamu bisa berenang, tidak? Mau adu cepat?”.
Ah, mengingatkanku pada Kak Yashiro yang sempat mengajakku berenang di kolam sedalam dua meter saja. Demi keselamatan jiwa, aku langsung menolaknya dengan tegas. Bagaimana tidak? Aku tidak begitu mahir berenang. Aku hanya bisa mengambang di kolam sedalam satu meter – dan kecelakaan murni dimana aku pernah tenggelam sewaktu berenang membuatku sedikit trauma.
Aku menggeleng kuat-kuat – mengingat kenangan buruk itu sama saja dengan uji nyali – dan kembali melanjutkan sarapanku dengan khidmat. Sampai mataku menemukan sekumpulan manusia yang begitu kukenal gelagatnya. Segerombolan pengkhianat yang benarnya tidak ingin kutemui lagi selamanya.
“Nggak mungkin.” Begitulah. Aku tidak bisa menyembunyikan kekagetanku lagi.
Teman-teman?
.
.
.
                Jujur, aku sendiri juga tidak tahu pasalnya apa.
                Tapi, aku bukan orang gila. Sebut saja aku psikopat yang diam-diam mempunyai niat jahat untuk mengantarkan mereka serentak ke neraka Jahanam bersamaku. By the way, niatku menguntit mereka seperti sekarang ini tidak didasari nafsu keji, lho. Aku tidak memegang pisau atau apalah itu. Metaforanya, hati nuraniku masih berbesar hati untuk memaafkan dan menerima mereka sebagai temanku.
                Meskipun begitu, kecil kemungkinan aku akan memperoleh perlakuan setimpal.
                Jangan temui mereka secara langsung, aku paling tidak suka setiap kali otakku menentang kata hatiku. Itu benar-benar membuatku merasa tolol. Sekarang, mereka sama saja dengan bangkai tikus yang lebih baik dihindari. Lantas, kenapa kamu masih bernyali untuk melangkahkan kakimu bersama mereka, Chris?
                Sudah kubilang, aku sendiri juga tidak tahu maksudnya apa.
                Kamu ingin diterima?
                Dusta. Harapan palsu.
                “Lho, itu Chris, ‘kan?”.
                Ah. Skat mat.
                “Eh, iya!” Ternyata masih ada salah satu dari mereka yang sudi menyambut kepulanganku. Tanpa ragu-ragu, dia menghampiriku yang bersembunyi di balik pepohonan nan rindang. Tidak lupa mengikutsertakan senyuman hangat. “Hei, kawan. Apakah kau merindukan kami?”.
                “He-hei, kawan,” sapaku canggung. Benar saja. Skeptisme telah menjadi unsur abadi dalam prinsipku. Tapi, hati nuraniku ini benar-benar idiot. “Tentu saja rindu, kalian ‘kan temanku,” jawabku enteng.
Bagaimana mungkin aku berhenti menghujatnya?
Usainya mengacuhkan peringatan dari otakku sendiri bahwa ‘teman’ itu adalah kata tabu.
.
.
.
                “Aaaaaaahh!!”.
                Aku benar-benar salah langkah. Ternyata, di balik senyuman manusiawi itu, mereka adalah jelmaan setan terkutuk. Yang aku tidak habis pikir, sejak kapan mereka menyiapkan batu bata untuk menghancurkan sendi lututku, sih? Berikut juga sekujur tubuhku yang sudah diadoni oleh tepung, minyak, dan telur busuk. Mendadak terpikirkan olehku yang termakan ucapan najis mereka, masa’ mereka ingin memanggangku dan berpesta pora setelahnya?
                Pintarnya, aku tidak bisa menitikkan air mata di depan mereka.
                “Hahahahaha! Bisa-bisanya kamu bermulut manis seperti itu! Tidak tahu malu!”.
                Seringai itu. Cukupkah aku berani untuk membalas dendam dengan seringai a la setan itu?
                “Sudahlah, Chris. Ingat masa lalu. Dari dulu, kamu itu cengeng. Nggak usah sok tegar, deh!”.
                Pelanggaran hak asasi.
Memangnya aku pantas diperlakukan keji seperti ini?
                Akan kubunuh kalian dengan senang hati.
Hei, diriku sendiri di dalam mimpi burukku.
                Bisakah kau merasukiku dan berakting di dunia nyata?
.
.
.
                Aku sadar.
                Kuulang, aku sadar sepenuhnya.
                Aku tidak mau peduli lagi.
                Aku tahu. Mereka ketakutan melihatku yang kini sama buasnya dengan setan. Iris biru langit yang biasa mereka lihat kini berganti dengan warna merah. Nyali mereka ternyata kecil juga untuk bermain denganku.
                Kubalas kalian, pengkhianat.
                “Cih. Hak kalian apa, ya?” Tanyaku sinis. Walaupun aku menyadarinya, aku merasa kalau hal ini sudah biasa kulakukan. Menyalakan api berwarna ungu – lebih menjurus ke violet – secara alami dengan tanganku sendiri. Entahlah, unsur kimia seperti apa yang menetap di dalam tubuhku?
Oke. Sekarang giliranku untuk bersenang-senang.
                “Let’s have some fun, my flames.”.
                Seringaiku lebar hingga menampakkan gigiku.
Yang kiranya bisa disetarakan dengan senyuman seorang psikopat.
.
.
.
“There’s no hesitation, there is no tomorrow, not in the past, and not now.
The days I spent here alone, always alone.
That’s right, all with my own hands.
I do, kill someone. I’ve survived like this.
As if I’m trying to scatter the present.
I’ll just kill the future.”.
.
.
.
To be Continued.

Ayane - Kakusei (Fractional Vision).

Comments.
Ayane itu penyanyi Jepang kesukaanku. Aku suka suaranya, hehe. Kalau boleh sedikit menyimpang dari topik, ini lagu yang kupakai sebagai Background Song dari Mission: Rock Howard Must Diealias sekuel Tell Me. Memang, ini bukan lagu Ayane yang paling kusuka, sih. Tapi, aku suka nadanya yang keren, juga cara Ayane menyanyikan lagu ini. Penuh perasaan—kalau boleh komentar.

Credits.
https://www.youtube.com/watch?v=w6do5epTpu0.

Lyrics.
  • Romaji.
Ikuoku no negai no kazu dake kanashimi ni yamu.

Seigyo sareteiru kioku no katasumi.
Subete wo kowasu to iu no naraba.
Tokihantareta angou wa tozasareta kioku to tomo ni.
Inochi no omosa wo shiri kakusei suru.

Ikuoku no negai no kazu dake sukui wo motomeru tamashii wa.
Samayoi michibikareru hikari kiseki he to ima.

Dead or alive, shiroki maboroshi wa.
Believe in my soul, mugen no shinwa.
Truth or lies, awaremi wo shimesu.
Urei naki sora futatsu no discord.

Kakeru beki sube to mamoritai mono wa.
Katai sono ishi de mune ni himeta.
"Dareka no tame ni" to subete nageutte.
Sashinoberateta yokubou wa fusagareta neiro wo saguri.
Ashita ga mienakutemo kakusei suru.

Zen to aku ga uzumaku yami de ima aru kyozou ni se wo mukete.
Sentaku no yochi mo nai, mama ni wananaita koe.

Dare mo ni yadoru setsunaki negai.
Shizuka ni kanadete umareru innocence.

Inochi yo kakusei suru.

Ikuoku no negai no kazu dake sukui wo motomeru tamashii wa.
Samayoi michibikareru hikari kiseki he to ima.

Dead or alive, shiroki maboroshi wa.
Believe in my soul, mugen no shinwa.
Dead or alive, ten to chi wo tsunagu.
Believe in my soul, aoki negai he.
Truth or lies, fumidashita kiseki.
Kodou hibikase futatsu no discord.

  • English.
Sorrow falls upon mere some hundred million prayers.

Suppressed in the corner of memory.
Saying that I'll destroy everything means.
The code that is together with the locked memories will be released.
Knowing the burden of the mission, I'll awake.

Among some hundred million prayers, the souls that seek salvation.
Wander around, guided by the light to the miracle known as "now".

The white illusion, dead or alive.
Believe in my soul, the legend of dreams.
Truth or lies, showing compassion.
In the sorrowful sky is the twin discord.

The way I should be with the things I want to protect.
And the strong will were hidden within myself.
Striking at everything for the "sake of someone".
The desire that reached out exploring the sound that were blocked.
Even I can't see the future, I'll awaken.

Turn your back to the pretense of the swirling darkness of good and evil.
Left with no room for choices, my voice trembled in fear.

Painful desire resides in everyone.
An innocence born to play quietly.

It's my mission to awaken.

Among some hundred million prayers, the souls that seek salvation.
Wander around, guided by the light to the miracle known as "now".

Dead or alive, the white illusion.
Believe in my soul, the legend of dreams.
Dead or alive, connecting the heaven and earth.
Believe in my soul, towards the blue desire.
Truth or lies, the path I set forth on.
The resounding pulse is the twin discord.

Sabtu, 08 Maret 2014

Who Are You? Final Part.

Hai. Akhirnya, kita sampai juga ke akhir acara. Langsung to the point saja, ya. Check it out.
.
.
.
.
.
Kenapa harus dia?
Hanya itu yang ada di dalam pikiranku. Tanpa berpikir panjang—namun dengan pemikiran yang matang. Aku langsung menyuruhnya untuk berbicara di lokasi yang lebih privat saja. Alias di Direct Message. Dan, dengan perasaan yang sungguh-sungguh, aku langsung meninggikan nada bicaraku.
"Serius. Maksud semuanya apa?!".
Kuharap jawabannya tidak mengecewakan.
"Oke. Sebenarnya hanya iseng yang temanya tentang 'crush'. Saat saya tahu itu anak kelas 12, saya mulai penasaran. Dan, dugaan saya benar. Bukan bermaksud teror atau yang lain. Saya cuma berpikir kalau kamu itu orangnya menarik. Dan, saya penasaran tentang kamu. Saya nggak bilang siapa-siapa tentang hal itu. Maaf.".
Persetan. Nggak bisa semudah itu memaafkanmu.
Rasanya aku ingin bilang begitu. Tapi, aku berusaha untuk berlapang dada dan mencoba untuk memaafkan. Aku nggak mau bertengkar di awal-awal liburan panjang ini. Apalagi, dengan seseorang yang kiranya nggak pernah bermasalah denganku sebelum ini. Dengan seseorang yang tidak pernah meninggalkan citra buruk di mataku.
"Nggak apa-apa, kok. Tapi, ucapan yang terakhir. Yang pakai Bahasa Jepang itu. Itu serius atau cuma mau main-main?".
Baik itu serius atau bukan, aku juga pasti akan menolaknya. Sesuai dengan kalimatku di entri sebelumnya—yang mana kukatakan di depan Kak Terry. Aku tidak pernah mau membohongi hatiku sendiri.
"Well, it between serious and joke. Saya penasaran bagaimana reaksi seorang Ranran jika dihadapkan dengan sesuatu seperti itu.".
Apa? Jadi, aku dipermainkan?
"Dan disertai sedikit perasaan saya.".
Ah, nggak. Setidaknya, aku tidak perlu mencapmu sebagai pembohong kelas kakap.
Kesimpulannya, dia tidak membohongiku. Yah, yang penting itu. Serupa tapi tak sama dengan karakter game yang aku RP-in sendiri—alias Chris. Aku. Benci. Pembohong.
"Lalu, soal 'need help' itu apa?".
"Yah, barangkali kamu butuh informasi mengenai dia, atau mau mendekati—misalnya. Atau saran.".
Kalau boleh jujur, aku tertawa a la psikopat waktu membaca jawabannya. Tidak—nggak akan semudah itu dia kumanfaatkan. Aku nggak bisa. Aku memang orang yang sering memanfaatkan kesempatan emas apalagi kalau itu menguntungkanku, tapi aku bukan seorang pengkhianat. Pegang kata-kataku itu.
"Dan sekali lagi, saya minta maaf.".
Sudah. Jangan membuatku merasa berdosa.
"Nggak apa-apa. Serius, nggak apa-apa. Justru saya yang harusnya minta maaf.".
"Tidak. Atas dasar apa kamu minta maaf? You're innocent.".
Boleh kuralat? Naif. Bukan polos.
Kalau aku polos, aku nggak akan merasa kecewa. Yah. Berimbang dengan rasa sedih, sih.
"Aku merasa nggak enak saja sama kakak. Entahlah, aku marah atau sedih sekarang, nggak tahu. Yah, anggap saja empatiku 'masih' ada. Tapi, nggak apa-apa, kok. Aku bukan orang yang bakal nyuekin orang yang kiranya udah bikin aku marah. Soalnya, aku marah pasti cepet lupa.".
"Begitu... Oke, kalau kamu butuh sesuatu, jangan sungkan hubungi saya.".
Ah, apa iya kalau dia benar-benar tahu siapa orangnya?
"Iya... Dan... Kiranya aku butuh itu sekarang. Hehehe.".
"Jadi, ada yang bisa saya bantu?".
"Saya mau memastikan apakah dugaan kakak benar atau nggak. Memangnya siapa?".
BLABLABLA.
Intinya, jawaban dia benar.
Dalam benakku, dia 'kan dekat sama Kak Terry, apa ...
Aku boleh tanya satu hal ke dia?
Rasa ingin tahu itu menjerumuskanku ke dalam suatu kasus. Yang sampai sekarang belum bisa kubilang tamat.
.
.
.
.
.
My God. Aku ingat kalau Kak Terry ingin menyelidiki siapa pelakunya. Sial. Sekarang itu sudah tidak perlu lagi. Waktu itu, aku benar-benar lagi nggak mau ngobrol sama siapa-siapa, jadi ini yang kukatakan padanya.
"Kak. Nggak usah dicari lagi. Orangnya ngaku. Dan, saya nggak nyangka. Nggak nyangka.".
"Nggak nyangka gimana? Siapa orangnya?".
"Nanti aja ya, saya ceritanya. Kalau saya udah tenang. Perasaan saya jadi nggak jelas. Dari shock—lalu ke marah, sedih, iba. Nggak tahu. Maaf, kak.".
"Saya ngerti. Ya udah, tenangin diri dulu sana. Ingat, kalau ada apa-apa kasih tahu saya, saya akan selalu bersedia mendengarkan dan membantu Ranran.".
Tidak tahulah mengapa. Aku benar-benar percaya padanya.
.
.
.
Beberapa saat kemudian.
BLABLIBLUBLEBLO. Aku ceritakan saja semua. Dengan takut-takut menanti reaksi Kak Terry.
"Kurang ngajar tuh anak, hadeh.".
Aku tahu. Itu istilah yang lebih sopan dari definisi "kurang ajar".
"Dia itu ya, kalau menurutku, belum berpengalaman soal beginian. Dia itu persis aku waktu SMP, aku ngerti maksud dia apa, tapi caranya salah...".
Pantas saja Kak Terry selalu baik sama perempuan, batinku dalam hati.
"Sekarang anaknya BBM aku, nanya sifat asliku bagaimana, katanya dia lagi jadi mata-mata.".
Seketika, aku langsung mematung.
SAUS TARTAR. RAJUNGAN.
Dia mata-matanya, dan aku bosnya.
Padahal aku nggak nyuruh dia, 'kan?!
Sumpah. Itu bodoh banget. Siapa juga nyuruh dia buat jadi secret spy?!
"Udah, kak. Jangan diapa-apain...".
Satu alasan saja. Aku nggak mau mereka bertengkar. Aku nggak mau jadi biang permasalahan mereka.
"Ya, enggaklah. Saya sama Daiki itu teman seperjuangan. Justru saya mikirin kamu nggak apa-apa atau bagaimana. Udah, Ran, udah. Jangan dipikirkan. Jangan pegang hape dulu, biar saya ngomong sama Daiki sebentar. Kamu tidur aja.".
Aku nggak apa-apa, kok. Aku hanya shock. Nggak habis pikir.
"Iya. Aku nggak mau dengar kabar buruk, lho. Oyasuminasai.".
Satu-satunya yang ada dalam pikiranku. Kok, jadi begini?
.
.
.
.
.
8 Maret 2014.
"Ohayou.".
Aku langsung menelan ludah. Apalagi setelah tahu siapa orang yang BBM aku.
"Sekarang udah nggak apa-apa, Ran. Keadaan kamu gimana sekarang?".
Dia benar-benar khawatir, ya?
"Nggak apa-apa, kok. Masih agak shock, sih. Tapi—saya benar-benar udah nggak apa-apa. Oh, iya. Nggak terjadi hal-hal yang buruk, 'kan?".
"Alhamdulillah, kalau kamu nggak apa-apa. Enggaklah, emang kamu pikir saya siapa?".
Benar-benar deh, kamu itu.
"Nggak. Saya ngeri aja. Oke, oke. Tapi, karena masih merasa menjadi biang masalah, kalau boleh tahu, kakak ngobrolin apa aja sama Kak Daiki?".
"Nggak, Ran. Tenang aja. Bilang jangan ngelakuin kayak gitu lagi, nggak baik. Dia 'kan awalnya nanyain sifat asli saya, terus ngobrol-ngobrol dan akhirnya saya jawab.".
Jawabannya benar-benar gila. Kuulang. GILA.
Nadanya sih polos. Tapi, apa dia nggak sadar kalau itu—secara langsung mengumumkan perang, ya?!
'Gue ini orang yang sama sekali nggak suka, benci, murka, geram, sama orang yang melukai perasaan cewek yang gue kenal.'.
Oh, God. Seriously. You're idiot, Terry!
"Oi. Apa itu nggak menyindir secara langsung, ya?".
"Lah, 'kan dia nanya. Ya, saya jawab.".
Alasan yang masuk akal.
"Ckckckck. Tapi, kalian enggak bertengkar, 'kan?".
"Maunya sih, gitu. Tapi, saya nggak bisa berantem.".
Meninggalkanku yang terdiam seribu kata berkat kalimatnya.
Munafik.
.
.
.
.
.
Begitulah akhir kisahnya. Entahlah. Ini bisa dibilang berakhir atau belum, ya? Aku juga tidak tahu. Yang jelas, perasaanku benar-benar goyah. Kecewa. Takut. Hanya dua itu yang kurasakan setiap kali mengingat kejadian aneh bin ajaib ini. Baik mengingat Kak Terry ataupun Kak Daiki.
Aku hanya mengharapkan yang terbaik.
Silahkan sebut aku naif. Tapi, seapatisnya aku dalam segala hal.
Aku tidak bisa mengabaikan hati nuraniku. Bukannya aku lebih mengharapkan friendzone atau apa, tapi prinsipku memang hanya ingin friendzone saja dengan mereka berdua. Minimal—nggak ada yang berantem hanya karena aku.
This is the epilogue. Thanks for reading 'till the end.
.
.
.
.
.
(( Ranku Kurogane ))